Bagian Satu
Gadis itu mencoba menahan nafas. Ia tak berani menghirup udara sekitar yang terkontaminasi bakteri dan virus dari orang-orang yang batuk dan bersin namun tidak menutup mulutnya.
Ia sendiri menderita flu akut. Flu ini telah mengkibatkan tidurnya bermalam-malam penuh derita karena hidung yang tersumbat.
PIkirannya kemudian melayang mengambil belokan tajam ke arah sosok pria yang akan ditemuinya. Pria yang selama hampir dua tahun telah menjadi kekasihnya, dan lusa pria itu akan pergi jauh sekali. Cukup jauh hingga gadis itu dapat meminta cenderamata air mata Dewi Venus yang jatuh ke laut.
Dia pasti kaget aku sudah di Jakarta, pikir gadis itu. Ia sengaja tidak mengumumkan kehadirannya. Ini akan menjadi sebuah kejutan.
Ia pun memberanikan diri menarik nafas, namun tidak bisa, karena hidungnya tersumbat. Lendir-lendir yang mengkaku dan menumpuk membuat kepalanya pusing dan berat. Ia tidak bisa bernafas.
Di dalam kaleng onggokan besi dan mesin berroda yang melaju kencang itu ia mencoba tidur, dengan bernafas dari mulut, dan hanya ditemani bunyi batuk dan bersin dari para penumpang lain. Dan mungkin bunyi dari perutnya sendiri yang belum sempat ia isi sedari siang.
Ia pun tertidur tidur yang gelisah.
