03 08 09

Bagian Satu

Gadis itu mencoba menahan nafas. Ia tak berani menghirup udara sekitar yang terkontaminasi bakteri dan virus dari orang-orang yang batuk dan bersin namun tidak menutup mulutnya.


Ia sendiri menderita flu akut. Flu ini telah mengkibatkan tidurnya bermalam-malam penuh derita karena hidung yang tersumbat.


PIkirannya kemudian melayang mengambil belokan tajam ke arah sosok pria yang akan ditemuinya. Pria yang selama hampir dua tahun telah menjadi kekasihnya, dan lusa pria itu akan pergi jauh sekali. Cukup jauh hingga gadis itu dapat meminta cenderamata air mata Dewi Venus yang jatuh ke laut.


Dia pasti kaget aku sudah di Jakarta, pikir gadis itu. Ia sengaja tidak mengumumkan kehadirannya. Ini akan menjadi sebuah kejutan.


Ia pun memberanikan diri menarik nafas, namun tidak bisa, karena hidungnya tersumbat. Lendir-lendir yang mengkaku dan menumpuk membuat kepalanya pusing dan berat. Ia tidak bisa bernafas.


Di dalam kaleng onggokan besi dan mesin berroda yang melaju kencang itu ia mencoba tidur, dengan bernafas dari mulut, dan hanya ditemani bunyi batuk dan bersin dari para penumpang lain. Dan mungkin bunyi dari perutnya sendiri yang belum sempat ia isi sedari siang.


Ia pun tertidur tidur yang gelisah.

Bagian Dua

Dan ia terbangun saat lampu-lampu kota dan bayangan-bayangan kendaraan yang melaju kencang dan tak ramah mulai mengganggu matanya.


Rasa gembira mulai menyemburat di hati. Ia akan segera bertemu pria itu, ia telah membawakan makanan kesukaannya, dan ia akan membawakan topi pemberiannya pada pria itu yang tertinggal di rumahnya. Ia akan meminta maaf atas kelakuannya kemarin dan ia akan mendekap pria itu. Gadis itu akan segera bertemu kekasihnya.
Namun tidak.


Pagar rumah berwarna jingga. Jalanan lengang, jangkrik pun tak bersuara. Matanya kosong seraya ia mengetuk-etuk besi pagar itu.


Matanya seakan dilapisi plastik cair yang transparan yang mengaburkan pandangannya ke depan. Ia berjalan oleng di jalan itu.


Tasnya sudah kosong. Makanan dan topi sudah ia berikan. Bukan pada kekasihnya, tapi pada penjaga rumah itu. Kekasihnya entah dimana.


Gadis itu merasa ia akan berjalan kaki pulang. Rumahnya lima kilo dari tempat itu, namun bukan masalah. Selama ini ia selalu berjalan menghilangkan galau hati.

Ia sendiri di jalan itu, mungkin sama sendirinya seperti ketika Harry kabur meninggalkan keluarga Dursley ke jalanan yang sepi.

Tapi Harry adalah istimewa. Gadis itu tidak.

Bagian Tiga

Namun betapa terkejutnya gadis itu ketika bagai bus magis yang kemudian datang dan menjemput Harry, seorang pengendara kuda besi menyapanya menawarkan untuk pulang. Gadis itu ingin pulang.

Mereka melaju kencang. Gadis itu mengenakan pakaian tipis dan sekarang Sang Bayu menerjang menghujam tubuhnya dengan begitu kejamnya.

Air itu tidak jatuh menggelinding ke pipinya. Air itu mengalir menghilang di ujung pelipis mata, mengikuti arah angin yang menerpa wajahnya. Air itu membawa hanya sedikit dari derita dan pedih itu hilang.

Pada suatu titik, gadis itu merasa akan melayang jatuh. Kesadarannya mulai hilang, dan menghantam aspal yang keras mungkin akan lebih mempermudah hidupnya. Namun ia tetap berpegangan.

Pagar berwarna hijau tua. Ketukannya pada pagar itu melemah. Kakinya sudah seperti agar-agar. Tetap pagar itu tidak terbuka.

Di saat ia hampir merasa tak diinginkan, seorang perwujudan bidadari yang turun ke bumi menjemputnya. Menjemputnya ke sebuah tempat yang hangat dan penuh kasih sayang.

Gadis itu akhirnya tersenyum.

23 07 09
Money represents lack. Money represents things in the past (debt) and things in the future (credit), but money never represents what is presentDaniel Suelo : the man who survived without money
21 07 09
reblogged from: whatshisname.
(via whatshisname)

How I missed those left-side driving days down the highways to Nevada

(via whatshisname)

How I missed those left-side driving days down the highways to Nevada

Don’t walk in front of me, I may not follow.
Don’t walk behind me, I may not lead.
Walk beside me and be my friendAlbert Camus (also attributed to Maimonidies)